Upaya Penanggulangan Tanah Longsor

Kejadian tanah longsor amat sangat tidak jarang berjalan di sekian tidak sedikit daerah di Indonesia dan tak sedikit korban yang tewas karenanya. Badan Penanggulangan Bencana sudah tak jarang melakukan upaya penanggulangan tanah longsor, tetapi kita tidak tahu kapan bencana itu akan terjadi. Indonesia mempunyai rekor masalah bencana longsor salah satu yang terbesar merupakan longsor di Banjarnegara pada 2015 kemarin. Inilah sebabnya perlu dilakukan upaya dan strategi penanggulangan tanah longsor antara lain ialah dengan :

1. Menghindari pembangunan pemukiman di daerah dibawah lereng yang rawan berjalan tanah longsor.
2. Mengurangi tingkat keterjangan lereng dgn pengolahan lahan terasering di kawasan lereng
3. Menjaga drainese lereng yang baik untuk menghindarkan air mengalir dari dalam lereng ke luar lereng
4. Pengerjaan bangunan penahan supaya tidak terjadi pergerakan tanah penyebab longsor
5. Penanaman pohon yang mempunyai perakaran yang dalam dan jarak tanam yang tidak terlalu rapat diantaranya di seling-selingi tanaman pendek yang sanggup menjaga drainase air.
6. Relokasi daerah rawan longsor, meski butuh dana agung ini adalah upaya mutlak yang harus dilakukan pemerintah diwaktu ancaman bencana dapat merenggut nyawa dan kerugian yang besar.
7. Warning system atau tehnologi peringatan bencana longsor dengan menciptkan alat-alat pendeteksi pergerakan tanah yang berisiko mampu longsor di daerah-dareh longsor. Peringatan sebelum longsor sanggup dilakukan pada penduduk untuk melaksanakan tindakan mitigasi bencana.

Upaya penanggulangan tanah longsor seperti halnya banjir, harus terintegrasi antara aksi masyarakat yang bermukim di area rawan longsor dengan pemerintah setempat.

sumber

Akibat Tanah Longsor Garut, Ratusan Rumah Rusak Parah

Satu Buah pergerakan tanah yang masif telah merusak sekian banyak ratus rumah secara bersamaan. Dengan Cara Apa kejadian tanah longsor di Garut ini dapat terjadi? Berikut penjelasannya.

Seperti yang dilaporkan oleh Kantor Kabar Antara, lebih dari seratus rumah mengalami kerusakan akibat tanah longsor di Garut. Pergerakan tanah berjalan secara langsung dalam tempo yang teramat serta-merta, akibatnya tak kurang dari 128 rumah warga mengalami kerusakan sejak mulai sejak dari sedang hingga berat.

Ruang pergerakan tanah atau tanah longor ini tepatnya dirasakan oleh penduduk di dua dusun, ialah Dusun Ciawi dan Dusun Lengkong kepada Jumat (19/2) tengah tengah malam dahulu. Dusun Ciawi dan Dusun Lengkong dgn trik administrasi masuk ke dalam wilayah Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, ja-bar. Biarpun catatan terakhir menunjukkan ada 128 rumah yang rusak parah akibat longsoran tanah ini, namun setidaknya ada 243 rumah yang berada persis di atas titik bencana pergerakan tanah ini.

Bencana tersebut didapati terjadi setelah hujan deras mengguyur Kabupaten Garut hampir setiap hari. Imbasnya tanah menjadi lembab dan kepadatannya berkurang sehingga menjadi rentan untuk ambles dan bergerak menjadi tanah longsor. Lebih-lebih lokasi rumah warga di Dusun Ciawi dan Dusun Lengkong ini berada di kontur tanah yang curam, dikarenakan rata rata rumah penduduk di ruang ini berada di kontur tanah pegunungan.

Hingga tulisan ini diturunkan, ratusan warga yang rumahnya mengalami kerusakan sedang hingga parah akibat bencana pergerakan tanah ini terus diungsikan sementara oleh otoritas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut. Sebagian akbar masyarakat mengungsi di rumah kerabat terdekat maupun di tenda-tenda pengungsian yang disiapkan oleh BPBD sampai diwaktu yang belum ditentukan.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat selaku saksi mata, pergerakan tanah atau tanah longsor di Garut ini terjadi begitu segera. Setelah hujan deras mengguyur setiap hari, tiba-tiba saja pada Jumat (19/2) tengah tengah malam terdengar suara gemuruh dan bunyi keras retakan tanah. BPBD Kabupaten Garut mengatakan rekahan tanah kira kira 10 centimeter, bahkan ada beberapa titik tanah yang amblas dan membuat puluhan rumah bergeser dari posisinya semula.

sumber

Sudah 50 Unit Sistem Peringatan Dini Bencana Longsor Dipasang BNPB

Melihat tren hujan yang semakin deras dengan intensitas yang makin tidak baik sudah semestinya jadi peringatan bagi seluruh penduduk. Meski wilayah di dekatnya jarang terjadi banjir sebab hujan deras, bukan berarti puncak musim hujan ini bisa diabaikan. Lantaran masihlah ada sanggup saja bencana tanah longsor dan angin puting beliung yang mampu datang kapan saja.

Seperti yang sekarang ini harus diwaspadai oleh penduduk kurang lebih lereng Gunung Merapi dan Merbabu, di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Mengutip pemberitaan Antara, potensi tanah longsor di Merbabu dan Merapi meningkat drastis selagi puncak musim hujan ini. Imbauan ini dirilis bersama trick khusus oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) jateng.

Peringatan waspada longsor di kurang lebih lereng Gunung Merapi dan Merbabu ini dikhususkan untuk ribuan warga yang tinggal di kira kira lereng. Elevasi kemiringan tanah yang cukup tinggi di kawasan lereng Merapi dan Merbabu semakin menambah risiko tanah longsor di kawasan ini. Terlebih tingginya curah hujan sebabkan tanah di lereng gunung jadi tak stabil dan basah.

Hingga tulisan ini diturunkan, demi mengingatkan masyarakat di sekitar lereng Merapi dan Merbabu, BPBD sudah menyebarkan surat imbauan peningkatan kewaspadaan ke sejumlah kecamatan. Dalam surat itu, dikabarkan bahwa selama puncak masa hujan Februari 2016 ini ribuan penduduk di lereng Merapi dan Merabu harus memahami risiko bencana tanah longsor, banjir dan puting beliung yang berpotensi kapanpun berjalan.

Lantas, area desa mana saja di kawasan lereng Merapi dan lereng Merbabu yang berpotensi tinggi rawan tanah longsor?
Catatan yang dilansir BPBD jateng menunjukkan, sediktinya ada 6 Kecamatan di Kabupaten Boyolali yang rawan longsor. Empat kecamatan berada di kawasan lereng Gunung Merapi, Merbabu, dan dua kecamatan ada di kawasan Boyolali Utara.

Empat Kecamatan di lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang rawan tanah longsor antara lain Selo, Cepogo, Musuk dan Ampel, sedangkan dua lainya di Boyolali sektor utara, yakni Klego pula Kemusu.

Untuk dipahami, struktur bentukan tanah di Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terdiri dari tanah berpasir dan gembur, tidak serupa dengan kondisi tanah di dataran rendah yang komposisinya padat.

sumber

Lokasi Rawan Longsor di Merapi dan Merbabu selama Musim Hujan

Melihat tren hujan yang semakin deras dengan intensitas yang makin tidak baik sudah semestinya jadi peringatan bagi seluruh penduduk. Meski wilayah di dekatnya jarang terjadi banjir sebab hujan deras, bukan berarti puncak musim hujan ini bisa diabaikan. Lantaran masihlah ada sanggup saja bencana tanah longsor dan angin puting beliung yang mampu datang kapan saja.

Seperti yang sekarang ini harus diwaspadai oleh penduduk kurang lebih lereng Gunung Merapi dan Merbabu, di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Mengutip pemberitaan Antara, potensi tanah longsor di Merbabu dan Merapi meningkat drastis selagi puncak musim hujan ini. Imbauan ini dirilis bersama trick khusus oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) jateng.

Peringatan waspada longsor di kurang lebih lereng Gunung Merapi dan Merbabu ini dikhususkan untuk ribuan warga yang tinggal di kira kira lereng. Elevasi kemiringan tanah yang cukup tinggi di kawasan lereng Merapi dan Merbabu semakin menambah risiko tanah longsor di kawasan ini. Terlebih tingginya curah hujan sebabkan tanah di lereng gunung jadi tak stabil dan basah.

Hingga tulisan ini diturunkan, demi mengingatkan masyarakat di sekitar lereng Merapi dan Merbabu, BPBD sudah menyebarkan surat imbauan peningkatan kewaspadaan ke sejumlah kecamatan. Dalam surat itu, dikabarkan bahwa selama puncak masa hujan Februari 2016 ini ribuan penduduk di lereng Merapi dan Merabu harus memahami risiko bencana tanah longsor, banjir dan puting beliung yang berpotensi kapanpun berjalan.

Lantas, area desa mana saja di kawasan lereng Merapi dan lereng Merbabu yang berpotensi tinggi rawan tanah longsor?
Catatan yang dilansir BPBD jateng menunjukkan, sediktinya ada 6 Kecamatan di Kabupaten Boyolali yang rawan longsor. Empat kecamatan berada di kawasan lereng Gunung Merapi, Merbabu, dan dua kecamatan ada di kawasan Boyolali Utara.

Empat Kecamatan di lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang rawan tanah longsor antara lain Selo, Cepogo, Musuk dan Ampel, sedangkan dua lainya di Boyolali sektor utara, yakni Klego pula Kemusu.

Untuk dipahami, struktur bentukan tanah di Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terdiri dari tanah berpasir dan gembur, tidak serupa dengan kondisi tanah di dataran rendah yang komposisinya padat.

sumber

3 Langkah Darurat Pasca Bencana Tanah Longsor di Lebong Tandai Bengkulu

Kejadian bencana longsor yang mematikan di wilayah pertambangan rakyat Lebong Tandai, Bengkulu setidaknya mampu menjadi peringatan. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selagi lebih dari 24 jam seketika menggetarkan tanah di tebing curam tambang Lebong Tandai, Bengkulu. tanpa pertanda sama sekali, 18 orang tertimbun longsor yang berjalan hanya dalam sekian tidak sedikit detik. Kabar terakhir dari Antaranews menyatakan, dari 18 korban yang tertimbun masihlah ada lebih kurang 15 korban lain yang terus dicari. 2 jenazah korban longsor sudah ditemukan, sedangkan satu orang ditemukan selamat dgn kondisi patah tulang.

Pasca kejadian tanah longsor yang terjadi di penambangan rakyat Lebong Tandai peninggalan Belanda ini, Penjabat Gubernur Bengkulu Suhajar Diantoro serta-merta menuju wilayah Rejang Lebong memimpin evakuasi. Untuk diketahui, kondisi wilayah pertambangan di Lebong Tandai adalah kawasan terpencil yang sangat sulit akses dan transportasinya. Bahkan sewaktu puluhan tahun, warga lebih kurang yang hendak menuju kawasan pertambangan rakyat di Lebong Tandai hanya bisa menggunakan kereta lori mini yang sudah dimodikasi bernama Molek.

Mengingat lokasi kejadian tanah longsor yang sulit dijangkau, Penjabat Gubernur Bengkulu Suhajar Diantoro segera memberikan instruksi khusus. Berikut ialah 3 langkah darurat yang sedang diusahakan pasca bencana tanah longsor di Lebong Tandai Bengkulu

Pencarian korban tanah longsor di Lebong Tandai akan dilakukan sampai batas kala yang ditentukan oleh tim Sar
Hingga artikel ini diturunkan belum ada kabar lebih lanjut dari proses pencarian 15 korban longsor di Lebong Tandai. Kondisi medan yang ekstrem dan trayek menuju lokasi tanah longsor yang terpencil makin menyulitkan pencarian. Pasalnya tim SAR hanya menggunakan cangkul kecil buat menggali tanah yang sangat banyak.

Dinas Sosial dan BPBD Bengkulu mengkoordinir dan mengkondisikan bantuan sembako untuk dua lokasi kejadian tanah longsor
Perintah kedua ini dikhususkan bagi dua ruangan kejadian yakni pertambangan rakyat yang tertimpa longsor dan Desa Lebong Tandai yang berada di ruang teramat terpencil. selama ini Desa Lebong Tandai hanya mampu dilalui memakai kereta mini Molek. Padahal di Lebong Tandai ada kira kira 147 Kepala Keluarga dimana 30 persennya termasuk rumah tangga miskin

Instansi PU Bengkulu harus menanggulangi kerusakan jurusan molek ataupun membuat trayek alternatif sehingga warga Desa Lebong Tandai tidak terisolir.
Kejadian tanah longsor di Lebong Tandai seakan mengakses mata publik Indonesia bahwa masihlah ada wilayah terpencil di Sumatera yang hanya bakal dijangkau memanfaatkan kereta lori mini bernama Molek. Namun sekarang ini trayek kereta molek serta juga sebagai peninggalan Belanda terputus dan mengisolasi desa Lebong Tandai. Akhirnya, informasi terakhir dari Antaranews menyebutkan, pada Sabtu siang (5/12) bantuan sudah diangkut bersama memakai satu unit helikopter milik Tubuh Nasional Penanggulangan Bencana yang dikirim dari Palembang Sumsel. Helikopter ini sejak sejak mulai mengangkut 34 koli lebih kurang 600-700 kg bahan-bahan makanan seperti beras, mie instan, gula dan bahan yg lain.(cal)

sumber

Fenomena Bencana Alam Tanah Longsor di Indonesia

Kondisi geologis tanah di Indonesia yang biasanya terdiri dari tanah lempung yang lunak memberikan ancaman longsoran tanah di jumlahnya wilayah Nusantara. Jumlah kerugian dan nyawa yang harus melayang yg ialah korban bencana alam tanah longsor pun tak mampu di lihat sebelah mata.

Tak Cuma bencana alam masif berupa gempabumi, tsunami, hingga gunung meletus yang mengancam nusantara, ancaman lain yang berwujud pergerakan tanah pun tak bisa diabaikan. Pergerakan tanah atau yang tak jarang disebut bencana alam tanah longsor amat tak jarang berlangsung tiap tahunnya.

Berdasar catatan kejadian bencana alam, hampir seluruhnya pulau gede di nusantara memiliki Kabupaten dan atau kota yang berpotensi mengalami ancaman tanah longsor. Ciri utamanya adalah wilayah yang memiliki relief dan rupa tanah yang kasar, lembek, dengan lereng terjal. Kondisi tanah seperti itu yang banyak terhampar khususnya di Pulau Jawa diperparah oleh curah hujan yang tak menentu, terkadang kering tapi tak jarang serta hujan deras tanpa henti, ditambah serta oleh ancaman bencana alam gempa bumi yang barangkali pemicu longsoran tanah.

secara umum, ancaman bencana alam pergerakan tanah membayang di daerah dataran tinggi dengan kontur perbukitan. Sample kejadian terakhir, tanah longsor yang menimbun sekian banyak ratus rumah warga di Pangalengan dan Banjarnegara berjalan di wilayah perbukitan yang tanahnya labil akibat dilanda hujan deras.

Risiko bencana alam tanah longsor memang dipengaruhi oleh elemen kepadatan dan kerentanan penduduk yang berada di area rawan pergerakan tanah. Kondisi bangunan dan infrastruktur di sekitar pergerakan tanah pun menjadi pemicu sejauh mana risiko kerugiannya.

Akibat yang paling nyata dari bencana alam tanah longsor adalah tertimbunnya desa atau kelompok masyarakat yang hidup persis di atas atau di bawah bukityang labil tanahnya. Jika hujan deras sudah melanda tak bersama henti, dan tanah di lereng perbukitan yaitu tanah lempung nampaknya jamaknya jenis tanah di Pulau Jawa, maka kewaspadaan sanggup pergerakan tanah patut diwaspadai.

Kerusakan yang diakibatkan oleh bencana alam tanah longsor memang tak sebanding apabila di bandingkan dengan catatan kerugian bencana alam lain di Indonesia. Tapi, kewasapadaan dan proses mengurangi risiko tetap harus diperhatikan. Hutan dan pepohonan lebat juga sebagai pencegah utama longsoran tanah masihlah harus dijaga kelestariannya. Lantaran pada kenyataannya, bencana alam tanah longsor, banjir, dan kekeringan terjadi akibat ulah tangan manusia itu sendiri yang tak bisa merawat dan menjaga hutan sebagai media penting resapan air dan pengikat tanah di lereng-lereng berbukit.

Sekian Banyak Ratus nyawa yang tertimbun dalam bencana alam tanah longsor di Banjarnegara dan Pangalengan sekian tidak sedikit bulan silam setidaknya mungkin pelajaran bagi masyarakat lain yang tinggal di jenis ruangan serupa khususnya di Pulau Jawa. Hanya butuh disaat tak lebih dari sepuluh menit untuk menenggelamkan satu dusun dengan 300 lebih penduduknya di Banjarnegara, jawa tengah. Serta serupa dengan yang terjadi di Pangalengan, bencana alam tanah longsor Pangalengan hanya perlu waktu 10 menit untuk menerjang bentangan desa seluas 1 Kilo Meter persegi yang berada persis di bawahnya.(IJL)

sumber

Sukabumi Diterjang 50 Kasus Bencana Longsor dan Puting Beliung

Sekian Banyak bln di th 2015 hujan mulai turun merata membasahi tanah Pulau Jawa dan beraneka ragam kawasan lain di Indonesia. Satu kawasan menerima limpahan air hujan yakni kawasan jabar. Bahkan sekian tidak sedikit kali hujan di bulan November hingga Desember 2015 turun dgn intensitas dan skala agung. Tipikal kahas pergantian cuaca dari periode kemarau ke musim penghujan.

Derasnya hujan jika tak ditanggulangi dengan serius jelas membawa dampak merugikan. Hujan selain membawa keberkahan, namun pun dapat menjadi pengingat bahwa alam yang tak seimbang komposisinya bakal berujung terhadap bencana.

Seperti yang berlangsung di Sukabumi, Jawa Barat. Sudah selayaknya warga jawa barat menyadari betul potensi dan risiko bencana alam di musim hujan. Tanah yang labil, serta saluran air yang tak berjalan sempurna yaitu sumber mutlak dari bencana khas masa hujan : tanah longsor dan banjir. Ditambah pun bisa saja badai seperti puting beliung yang muncul dari kumpulan awan cumulonimbus di atas langit jabar.

Catatan cukup mengejutkan datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi. Dilaporkan oleh Antaranews, dalam tempo satu bulan terakhir sejak November hingga pertengahan Desember 2015 ini, di Kabupaten Sukabumi sudah terjadi sedikitnya 50 kasus bencana tanah longsor dan puting beliung yang merusak fasilitas dan merugikan penduduk.

Seperti yang dikatakan oleh Kepala Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Usman Susilo, akibat dari rentetan bencana tanah longsor dan puting beliung di Sukabumi, tercatat ada 12 rumah rusak berat dan hancur tak berbentuk, kemudina 10 rumah yg lain masuk kategori rusak sedang, dan puluhan rumah lainnya rusak ringan. Dari 50 kali kejadian longsor dan angin puting beliung di Sukabumi ini, tiada satupun laporan korban tewas.

Walaupun catatan bencana longsor dan badai angin puting beliung lumayan tinggi menghantam beragam titik di Kabupaten Sukabumi, namun kesigapan warga setempat dalam menghadapi risiko bencana layak di apresiasi. Dampak tidak baik dari bencana terhitung tak terlalu besar. Rentetan bencana yang berjalan di akhir tahun 2015 ini hanya merusak sebagian kecil rumah warga, namun fasilitas umum semacam jalan raya penghubung desa banyak yang ambles akibat tanah longsor.

Untuk antisipasi risiko bencana alam yang semakin besar, dari pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana sudah sejak mulai sejak mengaplikasikan penggunaan tehnologi peringatan dini. Satu unit alat deteksi dini bencana di Kecamatan Pabuaran.

sumber